Selamat datang ke Toboali

Toboali letaknya di sebelah selatan pulau Bangka. Jauhhnya sekitar 125 km atau selama 3 jam berkendaraan dari Pangkalpinang, ibu kota Bangka Belitung. Terminalnya berlokasi di Girimaya, Pangkalpinang. Ongkosnya Rp30 ribu. Saat ini Toboali sudah banyak berubah. Tapi sayang, UPTB kelihatannya sudah tidak beroperasi lagi di sini. Harga-harga barang dan makanan juga mahal. Terbukti dari kutipan dan pengalaman saya selama berada di Bangka khususnya Toboali (19 dan 20 Oktober 2013): Nasi Sop Sapi Rp20 ribu; Mie Ikan Rp10 ribu; Cabai per kilo Rp50ribu; Minuman penyegar Rp20 ribu; Nasi Ayam Rp20 ribu. Ojek motor per jam Rp50 ribu. Hotel-hotel di sini tidak menyediakan penyewaan motor. Anda harus meyewa dari tukang ojek yang lalu-lalang di depan hotel Anda.

Sumber kehidupan warga terutama berkebun sahang, bertani sayuran dan menanam sawah dan menangkap ikan. Penduduk terdiri warga asli bangka dan china keturunan sehingga tidak aneh di mana-mana banyak dijumpai tepekong-tepekong di pinggir jalan. 
Toboali terkenal dengan terasinya, kemplang, rusip dan sambal lingkung. Anda tidak susah mencari makanan oleh-oleh ini sebab di mana-mana di sepanjang jalan banyak toko-toko yang memajang makanan khas ini. Jika Anda ingin beli terasi belilah di tempat pembuatannya di Jl Sukadamai. Atau kalau tidak sempat beli saja di pasar Toboali. Harga per kilo sekitar Rp60 sampai Rp70 ribu. Pilihlah yang tidak atau kurang baunya.
Hotel dan penginapan baru banyak berdiri di kota ini mulai bertarif standar sampai yang lebih mewah. Tarifnya mulai Rp75 ribu sampai Rp250 ribu per malam per kamar.


Sebagai tempat kelahiran saya, Toboali sangat berkesan sampai dengan saat ini. Inilai rumah yang dulunya tempat saya dibesarkan yaitu di Jalan Rawabangun I no.50, Toboali. Rawabangun juga disebut Sawah Keladi sebab dulu banyak tumbuh pohon keladi untuk makan babi. Keladi-keladi ini tumbuh di parit-parit kecil yang ada di depan rumah sepanjang jalan rawabangun tersebut. Karena letaknya yang lebih rendah dan dulumya memang bekas sawah sehingga bila hujan turun sedikit saja, kawasan rawabangun sebagian besar dipenuhi air terutama di jalan-jalan. Dari Rawabangun ini pasar juga tidak begitu jauh bisa melewati rumah-rumah. Saat ini jalan Rawabangun ini sudah ditingkatkan tingginya hampir 1 meter akibatnya rumah-rumah lama yang ada di jalan tersebut terlihat terpuruk karam di bawah jalan. Kasihan .. Mungkin saat ini banjir pun sudah jarang terjadi di lokasi ini.


Berikut gambar kantor kelurahan toboali yang juga berlokasi di ujung atas jalan rawabangun tepatnya di belakang dari Gedung Nasional yang letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya Toboali.


Patung petani ini dulunya pelataran yang sepi ditumbuhi pohon ceremai yang besar dan tinggi. Letaknya di seberang Gedung Nasional atau di bekas dimana dulu berdiri bioskop Asmara di zaman tahun 50 dan 60 an. Film India he ... he .. he .. Sekarang jalannya makin lebar, mungkin baru direnovasi sampai ke simpang depan Kantor Pos Toboali.







Pemandangan Sunset di tepi pantai Sukadamai, tidak jauh dari Kantor Pos Toboali. Walaupun pantainya tidak terlalu bersih, suasana sunset juga mengagumkan di pantai ini. Dari dulu hingga sekarang banyak anak muda menghabiskan waktu  di sini untuk sekadar menyambut tenggelamnya matahari.






Kelenteng ini berdiri sebelah gedung yang dulunya gudang beras TTB (Tambang Timah Bangka). Kelenteng ini juga sering dipakai untuk acara Rebut dari warga tionghoa setempat.



Terlihat Terminal Bus Toboali dan juga pasar baru. Terminal ini dulunya adalah rumah sakit besar untuk seluruh karyawan TTB Toboali yang telah beroperasi bertahun-tahun. Rumah sakit ini beroperasi cukup lama, mungkin sampai 40 tahun. Sebab dari saya baru lahir, rumah sakit ini sudah ada dan dalam kondisi bagus terawat baik.
Selamat tinggal rumah sakit .....
.


Upacara pernikahan massal di salah satu Desa yang termasuk teritorial Toboali.  Kiranya patut dilestarikan oleh anak cucu kita. Pernikahan massal sampai 10 pasang lebih. Biasanya dilakukan setelah panen sahang alias merica.








Langgar kecil yang biasa kami melakukan ibadah agar menyambut hari besar Islam seperti Isra Mi'rad, Maulud. Langgar atau surau ini berlokasi di persimpangan dengan Jalan Ampera Toboali.


Jalan Ampera merupakan jalan menuju ke perkebunan sahang ayah kami di Toboali dulu. Kiranya tidak banyak perubahan atau bahkan hampir tidak ada perubahan.
Sudah lama berlalu. Sekarang tinggal kenangan.









Kesan-kesan:
Sebagai orang yang telah lama meninggalkan Toboali, pindah ke Jawa (Jakarta), saya rindu ingin menikmati makanan kuliner tradisional zaman dulu seperti Martabak atau sering di sini disebut Kue Tabok, Lakso yaitu makanan terbuat dari tepung yang disantap bersama kuah ikan, Bergoo. Saat ini makanan asli seperti ini sudah sulit ditemui.
Saran kepada pengelola makanan asli bangka: hidupkan kembali makanan asli bangka khususnya Toboali. Sebab dengan begitu niscaya akan banyak wisatawan datang ke Toboali pada masa akan datang. Amin. Dan yang lebih penting tentunya, harganya jangan mahal-mahal, kasihan turis seperti saya ..... he he he ..
Saran kepada Pemda setempat alangkah baiknya jika pantai-pantai di Toboali dibuat semenarik mungkin misalnya dikelola lebih profesional, dibangun sarana dan prasarana wisata yang lebih serius sehingga wisatawan dari jauh misalnya dari Jawa atau Jakarta atau bahkan dari mancanegara datang ke Toboali untuk menikmati pemandangan pantai di sini. Semoga.
Satu lagi saran dari saya, agar hotel yang ada menyediakan juga rental-rental misalnya sepeda, sepeda motor bagi tamu-tamunya yang datang karena pengalaman saya ketika datang pada tanggal 19 Oktober 2013 yang lalu, di Toboali tidak ada rental motor atau sepeda bahkan tukang ojek pun tidak bersedia menyewakan motornya. Kalau pun ada harga mahal masa per jam mintanya Rp.50 ribu,.. mana tahan .......

Komentar

  1. Dari artikelnya saya bisa membayangkan, betapa indahnya toboali kota kelahiran anda.... saya sangat tertarik dan merasa rervantu dengan artikel ini; sebab insyaalloh pertengahan bulan oktober ini sata ada tugas ke sana. Ada hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana akses dati tobiali ke belitong yang rerkenal dg laskar pelanginya? Terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer